Kamis, 24 Maret 2016

Kekasih Tuhan Selamanya

Pagi yang indah untuk mengawali hariku yang baru ini..Udara yang menyegukkan ketika menarik oksigen yang terbang bebas di sekelilingku..Seperti biasa, aku bangun dari tidurku pada pukul 5:00. Ya, kewajibanku untuk menunaikan solat Subuh dan lekas mandi untuk menyiapkan hari yang akan aku isi dengan berbagai kegiatannku disekolah maupun diluar lingkungan sekolah.

 Ibu telah menyiapkan bekalku untuk kubawa sebagai bekal makan siangku dan sedikit uang saku yang diberikan sebagai tabungan maupun untuk membayar keperluan mendadak disekolah.

“KRIING!!!..KRING!!..” (suara sepeda)
Suara sepeda sahabatku, Amelia. Setiap hari sekolah ia selalu menghampiri rumahku untuk pergi bersama ke sekolah tercinta kami. Dan tepat pukul 06:00 kami pun berangkat sekolah menggunakan sepeda. 

Sebut saja namaku ini Cahya.. Nama lengkapku adalah Putri Cahya Lestari. Aku adalah siswi di SMA di salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Hobiku adalah menyanyi dan memasak meski sesekali masakanku gosong. Aku memiliki 2 orangtua yang mencintaiku meski mereka kini tak bersama lagi, namun setidaknya aku pernah merasakan hangatnya kebersamaan bersama mereka. Tak ada saudara sekandung yang ku punya. Merasa kesepian sering menghampiri, namun Amelia, sahabatku saat ini sudah kuanggap saudariku sendiri.

 2 tahun sudah aku berada di sekolah tercinta. Mengikuti peraturan dengan baik, menghormati guru serta teman-teman lainnya serta membanggakan dengan prestasiku setiap tahun di kelas.Cantik?? Sebagian orang menyebutku cantik namun aku tak menghiraukannya berlebihan, hanya terimakasih yang ku ucapkan ketika mereka memujiku.

 Banyak sekali teman-teman disekitar yang sebaya denganku sampai adik kelas yang tak canggung untuk berpacaran di lingkungan sekolah. Tak mengerti apa motivasi mereka. Namun ya namanya remaja pasti benih-benih asmara timbul dan menjadi membara.Sahabatku, Amelia. Dia memiliki pacar yang menurutku tampan dengan postur tubuh yang tinggi, berkulit kuning langsat, dan seorang pemain voli. Meski sekolah kami tak sama namun aku cukup mengenal Ryan, kekasih Amelia. 

Hmmmm...apa kalian bertanya apa aku punya pacar atau tidak?? Jawabannya adalah TIDAK!
Aku baru saja putus dengan mantan kekasihku pada 5 bulan terakhir. Yaa.. alasannya beragam mulai dari kami tidak lagi saling perhatian, si dia yang sudah mulai cuek, sampai membesarkan masalah kecil yang membuat kami sepakat mengakhiri hubungan itu.

 Sebenarnya tak ingin lagi hati ini merasakan sakit untuk ke 2 kalinya. Tapi mau diapakan, sebagai remaja yang baru sekali berpacaran dan masih labil dengan perasaan. Aku pun mulai merasa ingin membuka hati ini lagi kepada lelaki yang pantas.Namun rasa inginku selalu sirnah tiba-tiba. Mengapa?

 Tak akan ada yang mau berpacaran dengan seorang yang mengidap penyakit Anemia. Aku mengidap penyakit ini dari kelas 2 sekolah dasar. Saat penyakitku kambuh aku akan merasakan sangat lemah, sesak napas, jantung berdebar, dan mudah kesemutan, sampai bisa pingsan jika aku tak sanggup menahan semuanya.

Aku takut untuk berpacaran lagi karena tak mau orang yang menyayangiku merasa malu karena menjadi pacar seorang yang penyakitkan. Untungnya Ibuku sangat sabar dalam merawatku meski harus kesusahan jika penyakit ini kambuh secara tiba-tiba.

 “ cah..ayo kita makan bareng di kantin! “ (suara Amel yang sambil menepuk punggungku dari belakang)
“ayo..aku bawa bekal, nanti kita makan bareng yaa! “ (sambil tersenyum)
Setiap bel istirahat kami selalu makan bersama entah itu dikantin atau dikelas. Aku yang selalu bawa bekal dari ibuku dan Amel yang kadang jajan dikantin. Selalu saja banyak topik pembicaraan yang kami diskusikan. Dan kali ini Amel seperti memancingku untuk membuka hati lagi pada seorang pria.

“ Cah..kapan nih aku dapet traktiran hari jadian kamu ??” (sambil memakan baso yang dibelinya)
“ Ahh.. kamu ini,kan sudah aku bilang aku tidak mau berpacaran lagi. Kamu kan sudah tau alasan ku kenapa.” ( sambil mengambil tisu)
“Tapi cah...apa gak ada keinginan? Atau perasaan suka sama cowo gitu sekarang?” (tanyanya lagi)
“Sudah ah.. aku gk mau bahas ini lagi” (menatapnya sambil mengkerutkan kening) 

Keesokkan harinya, seperti biasa aku menjalankan aktifitas sekolahku namun di hari selasa ini ada jadwal les piano yang aku ikuti di sekolah musik di Jakarta.
 Hari ini ada ujian kenaikan tingkat di tempat les musikku..Aku menyiapkan lagu “First Love” untuk kusugguhkan pada ujianku.Lagu ini bercerita tentang cinta pertama seorang gadis.. namun kisah percintaan itu gagal.

 Lagu ini sengaja aku pilih karena iramanya menyentuh hati. Dan berharap aku lulus saat membawakan lagu itu.

Hari ini mungkin adalah hari yang bersejarah, karena aku bertemu dengan pria yang kira-kira serumur denganku. Dia membawa stik drum. Pasti dia anak drum yang juga akan ikut ujian pikirku.
Postur tubuh tinggi, berkulit putih, memakai kacamata, dan senyumnya yang menawan saat kumelihatnya sekilas.

Dengan rasa penasaran aku mengikuti pria itu ke ruang ujian dan sedikit mengintip sambil mendengarkan suara sayup-sayup yang dibicarakan oleh ia dan sang penguji.
Namanya adalah Andi, aku mengetahui namanya saat penguji memanggil namanya untuk segera menampilkan bakat drumnya saat ujian. Suara drum yang aku dengarkan sangat menakjubkan. Pria itu mampu menakhlukan hati sang penguji dan aku saat itu juga. 

# 3 bulan kemudian.... 

Andi telah menjadi teman baikku... kami menjadi teman baik sejak kami dipertemukan untuk bekerjasama dalam memainkan alat musik pada acara peringatan ulang tahun tempat les musik kami.
Alunan piano yang aku mainkan dan sedikit suara drum yang tak terlalu keras sangat memukau, sekaligus didukung alunan suara gitar dari salah satu teman yang juga mengisi acara pada saat itu.

 Andi dan aku kini sudah sedikit saling tau satu sama lain. Berbagi canda tawa dan sesekali hangout bersama entah itu nonton, makan siang atau makan malam. Sosok andi yang pengertian dan suaranya yang lembut namun tegas membuat aku kadang malu untuk menatap matanya dan berdebar jantung ini saat dekat dengannya.

 “ Cahya?? Kamu sudah bangun nak? Ibu telah menyiapkan susu hangat di meja makan. Cepat bangun!” ( suara ibu menyuruhku bangun ) hari minggu sangat membuat malas untuk bangun pagi.
Hari minggu ini tak ada kegiatan untukku, aku akan mengisi hariku dengan memainkan hp dan bersantai.
Tiba-tiba aku merasakan lemas dan pusing sekali. Rupanya penyakit anemiaku kambuh lagi. Ibu melihatku sangat lemas dan langsung mengambilkanku obat dan menyuruhku berbaring di sofa.Tuhan, mengapa sakit ini tak kunjung sembuh? Aku tidak ingin melihat ibu sedih. Aku mau sehat dan mau membahagiakan orang-orang yang aku sayang, tanpa penyakit ini.Ketika aku menyebutkan kata “sayang” dihatiku. Aku langsung teringat oleh Andi.Ada apa denganku. Mengapa aku mengingat Andi dan sangat ingin bertemunya. Rasanya ingin sekali menelponnya dan menanyakan kabarnya.

 Disekolah, aku menceritakan perasaanku selama ini dengan Andi kepada Amelia. Aku sempat kaget dengan perkataan Amelia. Dia bilang itu tandanya aku sudah jatuh cinta lagi, namun aku ragu. Apakah benar aku jatuh cinta pada Andi? Tapi tak bisa dipungkiri sepertinya memang benar aku telah jatuh cinta lagi yaitu kepada Andi.

 “Tuhan..Aku takut.. Aku takut dengan cinta ini. Aku telah jatuh cinta lagi,Tuhan. Aku takut sakit hati lagi. Aku juga tidak tahu apakah Andi juga menyukaiku atau tidak. Rasanya tak mungkin.

Tuhan.. jika ternyata Andi juga menyukaiku, aku takut akan melukai hatinya saat dia tahu aku memiliki penyakit ini. Aku tak mau orang yang aku cintai menjadi tidak bahagia karenaku. Aku mohon hilangkan rasa ini agar aku tak menuntut hati ini tuk berharap menjadi kekasihnya”.(Doa itu selalu aku ucapkan saat aku selesai beribadah)

 Hari kamis, aku mempunyai jadwal les piano. Dihari itu aku sangat bersemangat karena aku bisa bertemu juga dengan Andi.
“KRING!!..KRING!!..” (suara ponselku berbunyi)
“hallo..ada apa, ndi?? Kok tumben telpon.”
“ hallo..cah.. kamu bisa gk lebih cepat datang ke tempat les? Aku mau ngomong penting nih masalah musik”. (suara andi di telpon )
“bisa kok, ndi. Bentar lagi aku juga mau berangkat. Kamu tunggu aja di taman ya.”
“ iya cah, cepetan yaa.. soalnya aku udah sampe” (suaranya meminta)
“ ok deh ndi, bye”. (sambil menutup telepon)

 Saat aku sampai di tempat lesku, aku melihat Andi sudah duduk sendiri di taman.Disana kami memang berbincang tentang musik yang akan kami buat dengan judul “The Last”,yang berisikan tentang kekasih terakhir untuk selamanya. Dan tiba-tiba...Suara Andi berubah menjadi lebih serius. Dan kalimatnya membuat hati ini campur aduk. Perasaan senang,terharu,tidak percaya, dan kecewa.

 Andi, mengungkapkan bahwa dia selama ini menyukaiku dan ingin aku tuk jadi kekasihnya. Aku sangat kaget dan tak bisa berkata apa-apa.
Aku pun tak mau munafik, aku juga mengatakan bahwa selama ini aku juga menyukainya bahkan telah mencintainya, namun aku tidak mau untuk menjadi kekasihnya.
Andi merasa heran, mengapa aku tak mau menjadi kekasihnya. Aku hanya berkata bahwa aku tidak siap untuk berpacaran dan ingin fokus untuk kenaikan kelas dan sekolah musik ini.
Wajah Andi yang sepertinya kebingungan dan sedikit tidak percaya sambil menatapku, kubalas dengan tatapan lembut dan meyakinkan sambil mengatakan dalam hatiku “ aku minta maaf karena berbohong pada mu, Andi”.

Keesokkan harinya aku hanya bisa berbaring di ruang UKS. Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, penyakitku ini kambuh dan sangat menyusahkan orang lain karena aku tak sadar bahwa aku telah pingsan.
Aku tak sanggup untuk mengikuti pelajaran, dan akhirnya aku pulang lebih cepat kerumah diantar dengan ojek.

 Sesampainya dirumah, ibu bilang padaku. Bahwa ada kiriman yang dikirim seseorang dan menaruhnya di depan rumah. Aku langsung mengambil barang itu yang dibungkus kotak yang ditaru ibu di ruang tamu. Ku bawa ke kamar dan kubuka. Isinya adalah sepucuk surat dan boneka panda yang berpelukan.

“ Cahya..Aku sangat mencintaimu. Mengapa kamu tidak mau menjadi kekasih ku?? Apakah ada kesalahan yang aku perbuat padamu? Atau kau tak percaya dengan cintaku? Aku mohon agar kau mau menjadi kekasihku. Aku berjanji tidak akan mengecewakan hatimu. Aku berjanji”. 
#Andi

 Isi surat yang ditulis Andi membuat air mataku tak sanggup kubendung. Bukannya aku tak mau menjadi kekasihnya. Namun penyakit yang ada ditubuhku ini menjadi alasan agar aku tak menjadi kekasihnya.
Aku bingung, banagimana ia tau alamat rumahku. Ataukah ia menanyakannya di unit informasi ditempat les kami. Aahh.. sudahlah. Sudah terjadi, tak perlu lagi dipertanyakan.

 # 1 bulan berlalu.. 

Andi telah mengetahui tentang penyakitku ini. Rupanya ia datang kerumahku saat aku sedang les musik. Pantas saja aku jarang melihatnya di tempat les belakangan ini.

Ibu bilang padaku bahwa dia menanyakan keadaanku serta latar belakangku. Dan ibu menceritakan bahwa aku mengidap penyakit Anemia dari kecil. Penyakit ini sangat menyusahkan orang lain saat aku tak sadar bahwa aku pingsan.

Didalam hatiku. Aku tidak marah kepada ibu karena memberitahukan tentang semua ini. Namun aku sangat sedih bahwa sebenranya Andi sangat mencintaiku sampai dia tak jarang kerumahku dengan menanyakan kabarku kepada Ibu.

 Malam itu...aku menelpon Andi. Aku bicara kepadanya dan membahas semua yang telah ia tau tentang diriku. Sekali lagi Andi menanyakan apakah aku sudah siap untuk menjadi kekasihnya. Aku bilang bahwa aku belum siap. Namun Andi sedikit marah padaku, ia bilang apakah karena penyakitku ini yang menjadi alasan. Aku pun menjawab “iya”.

Malam itu kami membicarakan semuanya sampai akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan Andi tuk menjadi kekasihku. Aku pun mengiyakan bahwa aku akan menjadi kekasihnya dan Andi berjanji tak akan menyakiti hatiku dan menerima semua kekuranganku serta penyakit ini.Kami menjadi kekasih yang cukup romantis, seperti biasa kami pergi untuk nonton film terbaru di bioskop. Bukannya kami ke bioskop tapi malah kami hadir di rumah sakit. Anemia ku kambuh, aku sangat lemas dan pusing. Andi tak mau aku kenapa-napa dan segera ia melajukan motornya ke rumah sakit. Aku memeluk erat Andi dari belakang agar aku tak terjatuh.

 Pada malam itu Ibu datang kerumah sakit melihat keadaanku sembari menangis. Tak tahan melihat ibu menangis karena harus melihatku terbaring lemah. Aku meminta maaf kepada Ibu selama ini karena selalu merepotkannya dan aku meminta maaf kepada Andi karena tak jadi untuk nonton bioskop dan telah merepotkannya.

 “Ya Tuhan..Aku tak ingin membuat semua orang yang aku sayangi sedih. Aku tak tahan. Ibu...aku sangat menyayangi ibuku. Tolong jaga ibu selalu disetiap hembusan nafasnya, Tuhan. Dan untuk Andi..aku mohon agar Andi sanggup untuk menerima kenyataan bahwa aku tak bisa lagi bersamanya. Jadikan aku kekasih mu Tuhan di surga sana meski aku tak bisa lagi menjadi kekasih bagi ciptaanmu. Aku mohon Tuhan.. aku tak ingin lagi menyusahkan orang-orang yang aku sayang. Aku rela jika aku harus pergi demi kebahagiaan mereka. Aku menitipkan Ibuku, sahabatku Amelia, dan Andi pria yang kucintai” (doaku dalam tangisan).

 “ Ibu..Cahaya minta maaf karena selalu menyusahkan ibu saat sakit ini kambuh. Cahaya sayang Ibu.. Ibu tak perlu sedih lagi yaa..Cahaya akan selalu menjadi Cahaya ibu, buah hati ibu, dan selalu mencintai Ibu. Cahya gk mau lagi nyusahin ibu. Cahaya mau ibu berjanji kepada Cahya, kalo misalnya Tuhan menginginkan Cahya pulang kepadaNya. Ibu akan selalu mendoakan Cahya dan tak sedih lagi. Doa ibu adalah kebahagian untuk Cahya. Cahya selalu mendoakan ibu supaya Ibu baik-baik aja saat Cahya tak lagi bersama” ( kalimatku terakhirku kepada ibu sambil menghapus air mata ibu )

“ Cahya gk boleh ngomong gitu, Cahya kan kuat. Ibu selalu mendoakan Cahya. Ibu sangat mencintai Cahya sebagai Cahaya kehidupan Ibu” ( sambil menitihkan air mata )

“ Ibu.. tolong sampaikan kepada Andi bahwa, Cahya sangat menyayanginya. Maafkan Cahya karena Cahya tak bisa lagi bersama Andi dan Andi adalah pria terakhir yang pernah Cahya cintai di dunia ini” ( suara pelan )

“ Cahya..Cahya!!.. Cahya sayang!” (suara sayup ibu memanggil namaku )

  Malam itu adalah malam disaat Cahya harus pulang kepada penciptanya. Cahya akan selalu menerangi relung hati diesetiap insan yang mencintainya.
Kini Andi telah merelakan kepergian Cahya dari hidupnya, namun dihatinya selalu ada nama Cahya yang tak sanggup hilang. Dan lagu yang telah direncanakan Andi dan Cahya yang berjudul “ The Last” sudah dibuat andi dengan lirik yang menyentuh. Dan sebagai  kenangan bahwa Andi adalah cinta terakhir Cahya di dunia.


 Kini Cahya telah menjadi kekasih Tuhan selamanya disurga.Kekasih tanpa batasan waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar