Pagi
yang indah untuk mengawali hariku yang baru ini..Udara
yang menyegukkan ketika menarik oksigen yang terbang bebas di sekelilingku..Seperti
biasa, aku bangun dari tidurku pada pukul 5:00. Ya, kewajibanku untuk
menunaikan solat Subuh dan lekas mandi untuk menyiapkan hari yang akan aku isi
dengan berbagai kegiatannku disekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
Ibu
telah menyiapkan bekalku untuk kubawa sebagai bekal makan siangku dan sedikit
uang saku yang diberikan sebagai tabungan maupun untuk membayar keperluan
mendadak disekolah.
“KRIING!!!..KRING!!..”
(suara sepeda)
Suara
sepeda sahabatku, Amelia. Setiap hari sekolah ia selalu menghampiri rumahku
untuk pergi bersama ke sekolah tercinta kami. Dan tepat pukul 06:00 kami pun
berangkat sekolah menggunakan sepeda.
Sebut
saja namaku ini Cahya.. Nama lengkapku adalah Putri Cahya Lestari. Aku adalah
siswi di SMA di salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Hobiku adalah menyanyi
dan memasak meski sesekali masakanku gosong. Aku memiliki 2 orangtua
yang mencintaiku meski mereka kini tak bersama lagi, namun setidaknya aku
pernah merasakan hangatnya kebersamaan bersama mereka. Tak ada saudara
sekandung yang ku punya. Merasa kesepian sering menghampiri, namun Amelia,
sahabatku saat ini sudah kuanggap saudariku sendiri.
2
tahun sudah aku berada di sekolah tercinta. Mengikuti peraturan dengan baik,
menghormati guru serta teman-teman lainnya serta membanggakan dengan prestasiku
setiap tahun di kelas.Cantik??
Sebagian orang menyebutku cantik namun aku tak menghiraukannya berlebihan,
hanya terimakasih yang ku ucapkan ketika mereka memujiku.
Banyak
sekali teman-teman disekitar yang sebaya denganku sampai adik kelas yang tak
canggung untuk berpacaran di lingkungan sekolah. Tak mengerti apa motivasi mereka.
Namun ya namanya remaja pasti benih-benih asmara timbul dan menjadi membara.Sahabatku,
Amelia. Dia memiliki pacar yang menurutku tampan dengan postur tubuh yang
tinggi, berkulit kuning langsat, dan seorang pemain voli. Meski sekolah kami
tak sama namun aku cukup mengenal Ryan, kekasih Amelia.
Hmmmm...apa
kalian bertanya apa aku punya pacar atau tidak?? Jawabannya adalah TIDAK!
Aku
baru saja putus dengan mantan kekasihku pada 5 bulan terakhir. Yaa.. alasannya
beragam mulai dari kami tidak lagi saling perhatian, si dia yang sudah mulai
cuek, sampai membesarkan masalah kecil yang membuat kami sepakat mengakhiri
hubungan itu.
Sebenarnya
tak ingin lagi hati ini merasakan sakit untuk ke 2 kalinya. Tapi mau diapakan,
sebagai remaja yang baru sekali berpacaran dan masih labil dengan perasaan. Aku
pun mulai merasa ingin membuka hati ini lagi kepada lelaki yang pantas.Namun
rasa inginku selalu sirnah tiba-tiba. Mengapa?
Tak
akan ada yang mau berpacaran dengan seorang yang mengidap penyakit Anemia. Aku
mengidap penyakit ini dari kelas 2 sekolah dasar. Saat penyakitku kambuh aku
akan merasakan sangat lemah, sesak napas, jantung berdebar, dan mudah
kesemutan, sampai bisa pingsan jika aku tak sanggup menahan semuanya.
Aku
takut untuk berpacaran lagi karena tak mau orang yang menyayangiku merasa malu
karena menjadi pacar seorang yang penyakitkan. Untungnya Ibuku sangat sabar
dalam merawatku meski harus kesusahan jika penyakit ini kambuh secara
tiba-tiba.
“
cah..ayo kita makan bareng di kantin! “ (suara Amel yang sambil menepuk
punggungku dari belakang)
“ayo..aku
bawa bekal, nanti kita makan bareng yaa! “ (sambil tersenyum)
Setiap
bel istirahat kami selalu makan bersama entah itu dikantin atau dikelas. Aku
yang selalu bawa bekal dari ibuku dan Amel yang kadang jajan dikantin. Selalu
saja banyak topik pembicaraan yang kami diskusikan. Dan kali ini Amel seperti
memancingku untuk membuka hati lagi pada seorang pria.
“
Cah..kapan nih aku dapet traktiran hari jadian kamu ??” (sambil memakan baso
yang dibelinya)
“
Ahh.. kamu ini,kan sudah aku bilang aku tidak mau berpacaran lagi. Kamu kan
sudah tau alasan ku kenapa.” ( sambil mengambil tisu)
“Tapi
cah...apa gak ada keinginan? Atau perasaan suka sama cowo gitu sekarang?”
(tanyanya lagi)
“Sudah
ah.. aku gk mau bahas ini lagi” (menatapnya sambil mengkerutkan kening)
Keesokkan
harinya, seperti biasa aku menjalankan aktifitas sekolahku namun di hari selasa
ini ada jadwal les piano yang aku ikuti di sekolah musik di Jakarta.
Hari
ini ada ujian kenaikan tingkat di tempat les musikku..Aku
menyiapkan lagu “First Love” untuk kusugguhkan pada ujianku.Lagu
ini bercerita tentang cinta pertama seorang gadis.. namun kisah percintaan itu
gagal.
Lagu
ini sengaja aku pilih karena iramanya menyentuh hati. Dan berharap aku lulus
saat membawakan lagu itu.
Hari
ini mungkin adalah hari yang bersejarah, karena aku bertemu dengan pria yang
kira-kira serumur denganku. Dia membawa stik drum. Pasti dia anak drum yang
juga akan ikut ujian pikirku.
Postur
tubuh tinggi, berkulit putih, memakai kacamata, dan senyumnya yang menawan saat
kumelihatnya sekilas.
Dengan
rasa penasaran aku mengikuti pria itu ke ruang ujian dan sedikit mengintip
sambil mendengarkan suara sayup-sayup yang dibicarakan oleh ia dan sang
penguji.
Namanya
adalah Andi, aku mengetahui namanya saat penguji memanggil namanya untuk segera
menampilkan bakat drumnya saat ujian. Suara drum yang aku dengarkan sangat
menakjubkan. Pria itu mampu menakhlukan hati sang penguji dan aku saat itu
juga.
#
3 bulan kemudian....
Andi
telah menjadi teman baikku... kami menjadi teman baik sejak kami dipertemukan
untuk bekerjasama dalam memainkan alat musik pada acara peringatan ulang tahun
tempat les musik kami.
Alunan
piano yang aku mainkan dan sedikit suara drum yang tak terlalu keras sangat memukau,
sekaligus didukung alunan suara gitar dari salah satu teman yang juga mengisi
acara pada saat itu.
Andi
dan aku kini sudah sedikit saling tau satu sama lain. Berbagi canda tawa dan
sesekali hangout bersama entah itu nonton, makan siang atau makan malam. Sosok
andi yang pengertian dan suaranya yang lembut namun tegas membuat aku kadang
malu untuk menatap matanya dan berdebar jantung ini saat dekat dengannya.
“
Cahya?? Kamu sudah bangun nak? Ibu telah menyiapkan susu hangat di meja makan.
Cepat bangun!” ( suara ibu menyuruhku bangun ) hari minggu sangat membuat
malas untuk bangun pagi.
Hari
minggu ini tak ada kegiatan untukku, aku akan mengisi hariku dengan memainkan
hp dan bersantai.
Tiba-tiba
aku merasakan lemas dan pusing sekali. Rupanya penyakit anemiaku kambuh lagi.
Ibu melihatku sangat lemas dan langsung mengambilkanku obat dan menyuruhku
berbaring di sofa.Tuhan,
mengapa sakit ini tak kunjung sembuh? Aku tidak ingin melihat ibu sedih. Aku
mau sehat dan mau membahagiakan orang-orang yang aku sayang, tanpa penyakit ini.Ketika
aku menyebutkan kata “sayang” dihatiku. Aku langsung teringat oleh Andi.Ada
apa denganku. Mengapa aku mengingat Andi dan sangat ingin bertemunya. Rasanya
ingin sekali menelponnya dan menanyakan kabarnya.
Disekolah,
aku menceritakan perasaanku selama ini dengan Andi kepada Amelia. Aku sempat
kaget dengan perkataan Amelia. Dia bilang itu tandanya aku sudah jatuh cinta
lagi, namun aku ragu. Apakah benar aku jatuh cinta pada Andi? Tapi tak bisa
dipungkiri sepertinya memang benar aku telah jatuh cinta lagi yaitu kepada
Andi.
“Tuhan..Aku
takut.. Aku takut dengan cinta ini. Aku telah jatuh cinta lagi,Tuhan. Aku takut
sakit hati lagi. Aku juga tidak tahu apakah Andi juga menyukaiku atau tidak.
Rasanya tak mungkin.
Tuhan..
jika ternyata Andi juga menyukaiku, aku takut akan melukai hatinya saat dia
tahu aku memiliki penyakit ini. Aku tak mau orang yang aku cintai menjadi tidak
bahagia karenaku. Aku mohon hilangkan rasa ini agar aku tak menuntut hati ini
tuk berharap menjadi kekasihnya”.(Doa
itu selalu aku ucapkan saat aku selesai beribadah)
Hari
kamis, aku mempunyai jadwal les piano. Dihari itu aku sangat bersemangat karena
aku bisa bertemu juga dengan Andi.
“KRING!!..KRING!!..”
(suara ponselku berbunyi)
“hallo..ada
apa, ndi?? Kok tumben telpon.”
“
hallo..cah.. kamu bisa gk lebih cepat datang ke tempat les? Aku mau ngomong
penting nih masalah musik”. (suara andi di telpon )
“bisa
kok, ndi. Bentar lagi aku juga mau berangkat. Kamu tunggu aja di taman ya.”
“
iya cah, cepetan yaa.. soalnya aku udah sampe” (suaranya meminta)
“
ok deh ndi, bye”. (sambil menutup telepon)
Saat
aku sampai di tempat lesku, aku melihat Andi sudah duduk sendiri di taman.Disana
kami memang berbincang tentang musik yang akan kami buat dengan judul “The Last”,yang
berisikan tentang kekasih terakhir untuk selamanya. Dan tiba-tiba...Suara
Andi berubah menjadi lebih serius. Dan kalimatnya membuat hati ini campur aduk.
Perasaan senang,terharu,tidak percaya, dan kecewa.
Andi,
mengungkapkan bahwa dia selama ini menyukaiku dan ingin aku tuk jadi
kekasihnya. Aku sangat kaget dan tak bisa berkata apa-apa.
Aku
pun tak mau munafik, aku juga mengatakan bahwa selama ini aku juga menyukainya
bahkan telah mencintainya, namun aku tidak mau untuk menjadi kekasihnya.
Andi
merasa heran, mengapa aku tak mau menjadi kekasihnya. Aku hanya berkata bahwa
aku tidak siap untuk berpacaran dan ingin fokus untuk kenaikan kelas dan
sekolah musik ini.
Wajah
Andi yang sepertinya kebingungan dan sedikit tidak percaya sambil menatapku,
kubalas dengan tatapan lembut dan meyakinkan sambil mengatakan dalam hatiku “
aku minta maaf karena berbohong pada mu, Andi”.
Keesokkan
harinya aku hanya bisa berbaring di ruang UKS. Seperti yang telah aku katakan
sebelumnya, penyakitku ini kambuh dan sangat menyusahkan orang lain karena aku
tak sadar bahwa aku telah pingsan.
Aku
tak sanggup untuk mengikuti pelajaran, dan akhirnya aku pulang lebih cepat
kerumah diantar dengan ojek.
Sesampainya
dirumah, ibu bilang padaku. Bahwa ada kiriman yang dikirim seseorang dan
menaruhnya di depan rumah. Aku langsung mengambil barang itu yang dibungkus
kotak yang ditaru ibu di ruang tamu. Ku bawa ke kamar dan kubuka. Isinya adalah
sepucuk surat dan boneka panda yang berpelukan.
“
Cahya..Aku sangat mencintaimu. Mengapa kamu tidak mau menjadi kekasih ku?? Apakah
ada kesalahan yang aku perbuat padamu? Atau kau tak percaya dengan cintaku? Aku
mohon agar kau mau menjadi kekasihku. Aku berjanji tidak akan mengecewakan
hatimu. Aku berjanji”.
#Andi
Isi
surat yang ditulis Andi membuat air mataku tak sanggup kubendung. Bukannya aku
tak mau menjadi kekasihnya. Namun penyakit yang ada ditubuhku ini menjadi
alasan agar aku tak menjadi kekasihnya.
Aku
bingung, banagimana ia tau alamat rumahku. Ataukah ia menanyakannya di unit
informasi ditempat les kami. Aahh.. sudahlah. Sudah terjadi, tak perlu lagi
dipertanyakan.
#
1 bulan berlalu..
Andi
telah mengetahui tentang penyakitku ini. Rupanya ia datang kerumahku saat aku
sedang les musik. Pantas saja aku jarang melihatnya di tempat les belakangan
ini.
Ibu
bilang padaku bahwa dia menanyakan keadaanku serta latar belakangku. Dan ibu
menceritakan bahwa aku mengidap penyakit Anemia dari kecil. Penyakit ini sangat
menyusahkan orang lain saat aku tak sadar bahwa aku pingsan.
Didalam
hatiku. Aku tidak marah kepada ibu karena memberitahukan tentang semua ini. Namun
aku sangat sedih bahwa sebenranya Andi sangat mencintaiku sampai dia tak jarang
kerumahku dengan menanyakan kabarku kepada Ibu.
Malam
itu...aku menelpon Andi. Aku bicara kepadanya dan membahas semua yang telah ia
tau tentang diriku. Sekali lagi Andi menanyakan apakah aku sudah siap untuk
menjadi kekasihnya. Aku bilang bahwa aku belum siap. Namun Andi sedikit marah
padaku, ia bilang apakah karena penyakitku ini yang menjadi alasan. Aku pun
menjawab “iya”.
Malam
itu kami membicarakan semuanya sampai akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan
Andi tuk menjadi kekasihku. Aku pun mengiyakan bahwa aku akan menjadi
kekasihnya dan Andi berjanji tak akan menyakiti hatiku dan menerima semua
kekuranganku serta penyakit ini.Kami
menjadi kekasih yang cukup romantis, seperti biasa kami pergi untuk nonton film
terbaru di bioskop. Bukannya kami ke bioskop tapi malah kami hadir di rumah
sakit. Anemia ku kambuh, aku sangat lemas dan pusing.
Andi tak mau aku kenapa-napa dan segera ia melajukan motornya ke rumah sakit.
Aku memeluk erat Andi dari belakang agar aku tak terjatuh.
Pada
malam itu Ibu datang kerumah sakit melihat keadaanku sembari menangis. Tak
tahan melihat ibu menangis karena harus melihatku terbaring lemah. Aku meminta
maaf kepada Ibu selama ini karena selalu merepotkannya dan aku meminta maaf
kepada Andi karena tak jadi untuk nonton bioskop dan telah merepotkannya.
“Ya
Tuhan..Aku tak ingin membuat semua orang yang aku sayangi sedih. Aku tak tahan.
Ibu...aku sangat menyayangi ibuku. Tolong jaga ibu selalu disetiap hembusan
nafasnya, Tuhan. Dan untuk Andi..aku mohon agar Andi sanggup untuk menerima
kenyataan bahwa aku tak bisa lagi bersamanya. Jadikan aku kekasih mu Tuhan di
surga sana meski aku tak bisa lagi menjadi kekasih bagi ciptaanmu. Aku mohon Tuhan..
aku tak ingin lagi menyusahkan orang-orang yang aku sayang. Aku rela jika aku
harus pergi demi kebahagiaan mereka. Aku menitipkan Ibuku, sahabatku Amelia,
dan Andi pria yang kucintai” (doaku dalam tangisan).
“
Ibu..Cahaya minta maaf karena selalu menyusahkan ibu saat sakit ini kambuh.
Cahaya sayang Ibu.. Ibu tak perlu sedih lagi yaa..Cahaya akan selalu menjadi
Cahaya ibu, buah hati ibu, dan selalu mencintai Ibu. Cahya gk mau lagi nyusahin
ibu. Cahaya mau ibu berjanji kepada Cahya, kalo misalnya Tuhan menginginkan
Cahya pulang kepadaNya. Ibu akan selalu mendoakan Cahya dan tak sedih lagi. Doa
ibu adalah kebahagian untuk Cahya. Cahya selalu mendoakan ibu supaya Ibu
baik-baik aja saat Cahya tak lagi bersama” ( kalimatku terakhirku kepada ibu
sambil menghapus air mata ibu )
“
Cahya gk boleh ngomong gitu, Cahya kan kuat. Ibu selalu mendoakan Cahya. Ibu
sangat mencintai Cahya sebagai Cahaya kehidupan Ibu” ( sambil menitihkan air
mata )
“
Ibu.. tolong sampaikan kepada Andi bahwa, Cahya sangat menyayanginya. Maafkan Cahya
karena Cahya tak bisa lagi bersama Andi dan Andi adalah pria terakhir yang
pernah Cahya cintai di dunia ini” ( suara pelan )
“
Cahya..Cahya!!.. Cahya sayang!” (suara sayup ibu memanggil namaku )
Malam
itu adalah malam disaat Cahya harus pulang kepada penciptanya. Cahya akan
selalu menerangi relung hati diesetiap insan yang mencintainya.
Kini
Andi telah merelakan kepergian Cahya dari hidupnya, namun dihatinya selalu ada
nama Cahya yang tak sanggup hilang. Dan lagu yang telah direncanakan Andi dan Cahya
yang berjudul “ The Last” sudah dibuat andi dengan lirik yang menyentuh. Dan sebagai kenangan bahwa Andi adalah cinta terakhir
Cahya di dunia.
Kini
Cahya telah menjadi kekasih Tuhan selamanya disurga.Kekasih
tanpa batasan waktu.